“Do you remember your first kiss?”

“Emang ada yang lupa?”

“I don’t know. You?”

“Ya ingat lah. Cuma  bibir ketemu bibir. Terus gue ditampar.”

“How old are you?”

“Like 11 or 12, kind a…”

“Umur segituh lo udah nyium bibir cewek? Najis lo…”

“Suka-suka gue, lah…Hehe…Lo? Gimana? Ciuman pertama umur berapa?”

“17…”

“Tua banget. lo gak laku ya dulu?”

“Tomboy, rambut cepak, kulit item, idung pesek. Masih idup aja gue udah sukur…”

“Ah elo…You grown up as a hot and beautiful lady. Lupain deh yang dulu…”

“I did forget. I did move on from the past. But people arround me seems like loovee to stay there. They even still called me that nick names. Nose…”

“I didnt have to say anything. You mature enought to just dont care. “

“Lo mau tau apa yang gue seselin dari ciuman pertama gue?”

“Apa?”

“Cowok itu ternyata gak sungguh-sungguh mau cium gue. Cuma taruhan sama temannya untuk buktiin kalo gue lesbian atau bukan…”

“…”

“Hufff…”

“You know, they will be sorry for that. The fact that you have a better life, a better carreer, and best friend like me.”

“Hahahahahaha! Better career? Yes! Better life? Totally!!! Best friend like you? Err…thats sounds wrong! Huahuahuahua”

Aku tersenyum…

“Dah ah, gue cabut dulu. Jam makan siang gue udah lewat 30 menit yang lalu, gue bakalan beruntung kalo cuma dimaki-maki sama boss bule gue! Daaaaa!”

Namanya Lara.

Perempuan unik itu berlalu. Dengan rok pensil ketatnya yang panjang selutut  dengan belahan hampir sepaha. Hak tingginya berbunyi berderap seirama dengan pinggulnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Belum lagi urai ikal panjang rambutnya membingkai dada. Tidak pernah ada yang menyangka dia pernah menjadi bahan bully-an satu sekolah jaman dulu.

Dia pintar dan ramah.

Matanya selalu memberikan ekspresi “hidup” setiap kali aku berbicara dengannya. Belum lagi gerakan tangannya yang dinamis. Sesekali tangannya akan bergerak entah apa. Lantas sesekali pula dia akan sibuk merapikan ikal rambutnya yang berantakan namun bisa sebegitu seksi jatuh tergerai. Lantas…terkadang dia juga akan senang memainkan dadaku hingga mencelos dengan menyentuh pahaku, sambil tergelak dalam derai tawanya yang renyah.

Hampir sepuluh tahun lalu, tidak akan ada yang menyangka dia akan menjadi sosok yang begitu rupawan seperti ini.

Aku masih menyaksikan pesonanya dari jauh. Lantas tiba-tiba dia kembali menoleh, dan berteriak.

“Kaca mata gue ketinggalan! Tolong simpenin yaaaa! Sampe ketemu besok jelekkkk!”

Aku tersenyum.

Seandainya aku punya sedikit nyali untuk bisa mengatakan hal ini sejak sepuluh tahun lalu.

Mungkin gadis sempurna yang sudah terlanjur jadi sahabatku bisa ku jadikan istri.

 

 

 

 

Malam hari.

“Kalo tiba-tiba gue ketabrak, terus amnesia.”

BBM terkirim, masih D.

Terus tiba-tiba gue ngeliat lo dan gue gak sadar.

BBM terkirim, masih tetap D.

Gue jatuh cinta sama lo. Lo mau gak sama gue?

BBM terkirim….masih D

BBm tidak terbaca. Apa lagi terbalas.

 

Esok pagi.

Telpon berbunyi. Itu dia, Lara…

“Nak Dewa…”

“I..iya, ini saya Dewa, bu? Kenapa?”

“Lara…nak….Lara…”

“Lara kenapa, bu?!?!”

“Lara kecelakaan, dia menyetir tanpa kaca matanya…setelah koma selama 13 jam, pagi ini dia meninggal nak…ibu baru saja melihat pesanmu di teleponnya Lara…”

 

 

Dan…suara tangisan pecah…

Aku…seperti amat…sangat…lemas…

 

 

Iklan

Ada dua perempuan berusia tiga puluhan duduk di sofa merah itu. Di depannya telah bercangkir-cangkir latte terhidang. Tandas.

Perempuan yang satu bernama Jovi. Single mother dengan anak umur 6 tahun, yang kehidupannya kencannya menarik. Menarik dalam arti masih gonta ganti. Sebentar-sebentar kepengen sama yang lebih tua, sebentar kemudian ingin kencan sama yang usianya sepantar, sebentar lagi, katanya pengen nyobain yang umurnya jauh di bawah.

Perempuan yang lain bernama Sasa. Belum menikah di usia 33 tahun. Karier bagus, dengan kehidupan kencan yang membosankan. Atau, kalao boleh jujur, mungkin Sasa tidak punya kehidupan kencan. Okay, sesekali dia memang dapat blind date hasil mak comblangnya Jovi. Cuma kencan itu gak akan berujung kemana-mana. Dan esoknya, Jovi sudah harus mengenalkan lekaki yang baru.

“Lo tuh terlalu serius, baru juga kencan pertama udah ngomongin pengen punya anak berapa kalo udah nikah. Siapa yang gak takut digituin? Jangan-jangan dikencan kedua lo udah minta dikawinin lagih!”

“Loh, gue kan cuma tanya, dia suka anak-anak gak? Lo kan tau gue suka. Bukannya kencan pertama itu saat yang tepat untuk mencari tahu sebarapa banyak kecocokan yang bisa kita ciptakan?”

“Iya juga siyyyy, tapi kenapa mesti pertanyaan anak? Lo kan bisa bilang: what is you fave style in bed? Atau kamu suka masak gak? Aku jago loh bikin breakfast in bed. Gituh!”

“Is it always have to be about sex?”

“Honey, open your leg a bit, you will let a man come in to your life. That simple!”

Sasa terkekeh. Sementara Jovi masih ngotot.

Semalam Jovi mengenalkan Sasa kepada Alex. Duda keren yang dia kenal bulan lalu di fitness centre. Alih-alih dia jadiin teman kencan, entah kenapa Jovi malah berniat menjodohkannya dengan Sasa. Tapi sialannya, kencan semalam gak berjalan lancar. Alex baru saja tenang dengan proses perceraian yang melelahkan, dia belum ingin berpikir tentang pernikahan (lagi) Sementara pertanyaan-pertanyaan Sasa selama kencan semalam selalu menjurus kesana.

“Gue kan gak bisa santay kayak lo, Jo. Lo udah jauh mendahului gue. Lo udah pernah nikah. Gue belum. Lo udah punya anak. Gue belum. Beda, kan? Gue kan gak bisa terus-terus membiarkan cowok having sex sama gue di saat gue juga punya kebutuhan lain. DINIKAHIN.”

Jovi diam. Kalau sudah pake perbandingan begini agak susah memang. Dia gak mau berdebat perkara mana yang udah, mana yang belum. Jovi saat ini juga masih di tahap menikmati apa yang dia punya sekarang.

“You will get that my dear, sometimes the sex is just a door. you get what i mean, kan?”

Tak lama, telpon Jovi berbunyi.

“Hi, aku di dalem. Kamu kesini aja, aku di sofa merah di pojok ya sayang.”
“Siapa?”
“Ada deh, gue kenalin sama kecengan gue yang baru, ya?”
“Dasar…”

Tak lama datanglah seorang lelaki berusia dua puluhan, dengan gaya anak skate board, kaos cerah warna merah, topi dengan tulisan khas anak muda, dan celana kutung sebatas dengkul.

“Hai”
Sapa Jovi seketika. Sementara yang disapa hanya tersenyum kemudian mendaratkan pelukan dan ciumannya di pipi mulus Jovi.

“Kenalin sahabatku, namanya Sasa.”

Pemuda itu kemudian tersenyum dan menjulurkan tangannya sambil berkata “Kevin”

“Aku cuma mau kasih tau kalo aku ada ketemu teman di kafe di ujung. Karena aku tau kamu disini mungkin kamu mau gabung sama aku dan teman-teman nanti?”

“Sure dear, i will catch up with you soon after i finish my conversation with Sasa.”

“Okay, aku kesana dulu kalo begitu.”

Lantas Kevin mengecup bibir Jovi lembut dan berlalu sambil melambaikan tangan pada Sasa.

“Jojooooooooo! Setttaaannnn! itu anak umur berapaaaa???? Sembilan belas!?!? Kok lo gila siy?!!!”

Jojo tergelak.

“Lebay! umurnya 24 kok, kecil-kecil gituh dia punya bisnis export-import peralatan skateboard. Lumayan loh!”

“Njrit! Tapi apa yang lo lakukan sama dia siy???”

“Lha, kenapa enggak?!? Penisnya gede.”

“Monyong lo! Tapi 24 tahun Jojooo, lo aja sekarang 33! jauh gilaaa, lo kayak tantenya dia dehhh!”

“Gak papa, tante suka kok…apalagi penisnya gede…”

“Jovi! Serius dong, apa lo gak buang waktu aja sama anak kecil macam gitu?”

Jojo kemudian tergelak kembali. Dia mainkan rambutnya yang ikal urakan sepinggang. Dia melempar pandangannya, kemudian kembali ke mata sahabatnya. Sasa.

“Itu bedanya lo sama gue, Sa. Gue gak pernah ngerasa buang waktu. Semuanya gue nikmati, gue bawa enjoy. Itu cara gue buat having fun. Kevin baik, besidee of he is veryyyy good in bed, dia bisa gue ajak ngobrol. Gak salah kan?”

Sasa menatap Jovi dengan nanar. Banyak hal yang membuat dia kagum sama sahabatnya ini, tapi lebih banyak lagi yang dia juga tidak mengerti.

” Jo…Kevin itu masih kecil…”

Tak lama kemudian, sejurus Sasa menatap Jovi, mereka tersenyum dan menahan gelak tawa.

“Tapi penisnya gede! Hahahahaha!”

Dan sepasangan sahabat itu melanjutkan cerita mareka, di senja yang indah di suatu sore di Jakarta yang letih.

Sex_and_The_City_Quotes

Seorang perempuan mengetik Blackberrynya kepada seorang teman.

“Hari ini pulang tenggo yuk, boleh?’

Ping!

Terdengar suara melenting di ujung pojok sebelah sana. Tak berapa lama kemudian, pesan pun berbalas.

“Kapan siy gue pernah bilang enggak sama lo?”

Si perempuan bernama Cesa. Lajang di usia matang, yang kemudian berteman akrab dengan koleganya di kantor bernama Bryan. Bree, nama panggilannya.

Bree sendiri juga masih melajang. Semua teman-teman di kantor kerap mengolok-olok mereka sebenarnya berkencan, namun tak pernah mengakuinya. Padahal mereka tidak pernah benar-benar berkencan. Okey, mereka mungkin sering nonton bareng, sering ngopi-ngopi santai, atau sekedar menikmati nasi goreng kambing di jalan Sabang. Sun pipi? Biasalah. Lebih dari itu? Tidak.

Cesa terlalu gengsi untuk menjalin hubungan dengan kolega di kantor. Nyari jodoh kok di kantor. Nyari duit tuh baru bener. Itu selalu yang ada dalam pikirannya. Sementara Bree. Womanizer yang kerap berkencan kesana dan kemari, tanpa pernah mau terikat dengan bunga manapun.

“Kita masuk toll ya, biar cepet.” Seru Bree di tengah lamunan suntuk dan letih selepas jam kantor.

Dengan sigap cesa mengambil uang untuk membayar tollnya dan menyerahkannya kepada Bree.

“Apaan siy lo? Gua belum kayak orang susah kali sampe minta dibayarin toll sama lo.”

“Yaelah norak banget. Lo gengsi dibayarin toll sama gue?’

Ketika akhirnya Tucson putih itu menepi di loket. Cesa dengan sigap melepas seat beltnya, dan merangkak di atas paha Bree, merunduk dan cepat membayar uang tol kepada sang petugas.

Bree yang tidak siap dengan gerak cepat Cesa, seperti tak bisa bernafas sebentar. Tak bisa dipungkiri bahwa Bree sedikit terganggu dengan tubuh sintal Cesa yang tepat berada di depan matanya, dengan separuh badannya bertumpu pada paha sebelah kanannya.

Okey…Tarik nafas dalam-dalam Bree, gak lucu kalo Cesa tau lo bergairah cuma karena insiden bayar tol mendadak begini. Bree berkata dalam hati.

Selesai membayar, Cessa kembali ke pososi semua dan memasang kembali seatbeltnya. Mukanya tak merasa bersalah sama sekali…

“Kenapa lo?” Tanya Cesa dengan lirikan ciri khasnya yang sinis.

“Gak papa.”

Cesa, membuang pandangannya ke jalan tol yang ramai lancar. Beruntung, tol Jorr menuru rumahnya tidak begitu padat. Dibandingkan dengan tol arus balik di sebelahnya misalnya.

Bree menangkap sedikit gundah pada wajah Cesa yang unik. Cesa, perempuan yang tidak pernah berhenti bicara. Tangannya yang bergerak-gerak. Kemudian mengganti posisi duduknya. Sebentar-sebentar dia akan memainkan rambutnya. Kemudian dengan santay menyentuh lawan bicaranya.

Tertawanya lepas. Bicaranya lugas. Dia akan bicara apa yang ada di otaknya. Bersiaplah untuk sakit hati jika kita baru mengenalnya. Lidahnya cukup tajam untuk sesuatu yang dia katakan. Tapi dia juga tidak sungkan memuji atau berkata manis untuk sesuatu hal yang dia rasakan.

Cesa, perempuan mandiri yang juga bisa manja di saat yang bersamaan. Dia bisa membuat pria merasa dibutuhkan tanpa perlu merasa bergantung kepada pria manapun. Cesa…singkatnya, bukan perempuan yang bisa kamu lewatkan begitu saja. Dia menggoda, sayangnya dia terlalu sombong untuk mau gue goda. Sialan.

“Lo mikirin apaan siy, Bree? Jangan bilang lo ngelamun jorok ya!’

“Setan!Apa harus selalu senegatif itu pikiran lo sama gue?’

Cesa tergelak. Rok mininya semakin terangkat ketika tubuhnya berguncang karena tertawa.

“Lo tuh yang kayak orang galau. Kenapa? Ditinggal pacar lagi? Emang udah laku? Perasaan lo forever jomblo.”

“Anjrit! Gue jomblo juga high quality! Emang situ! Murahan…badak dibedakin aja lo doyan…”

Gue tertawa miris. Cesa tertawa puas. Rasanya menyenangkan bisa membuat dia riang kembali. Entahlah. Gue gak pernah tau apakah gue punya perasaan lain sama dia selain teman. Yang gue tau, gue gak pernah suka liat dia muram atau sedih. Persis seperti beberapa bulan lalu, ketika dia diputusin Leo, pacarnya yang anak pejabat jaman orde baru. Pengen gue gebukin rasanya.

“Bree…Kalo gue resign lo bakal kangen gue, gak?’

Tanya cesa tiba-tiba.

“Lo mau kemana? Jangan bilang lo akhirnya mau ke perusahaan client lo itu. Emang mereka sanggup bayar lo berapa?”

“Pertanyaan bukan itu, Nyet. Gue tanya, kalo gue resign, lo bakal kangen gue, gak?’

“Ces! Yang kangen lahhhhh. Siapa lagi yang bakal nebeng gue pulang??? Siapa lagi cewek muka mesum yang bisa gue cela-cela di kantor??? Siapa juga cewek yang kepedean pake rok super pendek, dan sepatu gladiator buat meeting sama client???”

Cesa tertawa terbahak.

Gue ikut tertawa. Separuh geli. Separuh khawatir. Gue takut gak siap untuk gak ketemu dia setiap hari.

“Offernya tempting. Gak mungkin gue gak ambil. Plus gue rasa gue udah harus move on. Gua gak mau kelamaan cuma jadi staff senior, gue butuh karier, Bree…’

“Lo udah pikirin? Yakin?”

“Yakin…”

“Perkapan?”

“Akhir bulan ini terakhir…”

Bree terdiam. Hanya nafasnya yang terdengar memburu satu-satu.

Di sebelahnya Cesa tak kalah terlihat khawatir. Antara gamang dan bimbang. Cesa pun tak benar-benar yakin dengan apa yang dia ambil.Dia hanya tau kalau dia tak mungkin selamanya dekat dengan Bree. Lelaki yang tak pernah punya cinta, sementara benih-benih itu mulai tumbuh subur di hatinya.

Bree…

Bersama Bree, cesa merasa tak perlu menjadi orang lain. Bebas mengungkapkan apa yang ingin dia bicarakan. Gak perlu jaim. Intinya dia merasa benar-benar utuh menjadi diri sendiri.

Sayangnya, Bree seperti tak pernah bisa melihatnya selain teman akrab dan nongkrong. Cesa pun tak pernah bisa menebar kode-kode seperti perempuan lainnya.

Ketika yang lain memuji wajahnya yang sensual, Bree bilang mukanya mesum.

Ketika yang lain bilang kulitnya mulus, Bree bilang kulitnya gak punya bulu. Gersang.

Ketika yang lain bilang rambut panjangnya keren dan indah, Bree bilang rambutnya gak karuan. Sebelas dua belas sama sundel bolong.

Bree…Pria ini biasa saja. Cuma cara dia bisa menerima gue apa adanya, itu yang bikin gue merasa spesial…

“Ces. Kalo entar lo pergi, gue di kantor sama siapa?’

“Sama Boss bule lo yang gendut dan galak itu dong…”

Bree diam. Cessa diam.

Jalan pulang itu terasa makin panjang…

Malam hari di kamar Bree.

Blackberry berbunyi. Dari Cessa.

“Besok gue gak masuk. Lo gak usah nungguin gue ditempat biasa.”

Bree malas membalas. Alih-alih mengetik, Bree menekan tombol nomer telepon Cessa.

“Kenapa lo gak masuk?”

“Males, udah mau resign ini…”

“Dasar!”

Klik…telepon ditutup.

Telepon berbunyi lagi. Kali Cessa yang menelponnya.

“Kok ditutup siy???”

“Lo bilang males, ya gue juga males dengerin lo.”

“Idihh!”

“Lo tuh yang idih!”

“Bree…”

“Apa???”

“Jangan galak-galak!”

“…”

“Bree?”

“Hmm?”

“Besok ngedate yuk? Nonton gituh…tapi beneran ngedate, bukan kayak yang biasa…”

“Eh…maksud, lo?”

“Iya, ngedate, kayak yang biasa lo lakukan sama cewek-cewek lo itu. Kita nonton, pegangan tangan, ciuman…yuk?’

“Bwuahuahuahuahuahu!!!”

“Kok lo ketawa siy? Gue kalah cantik emang sama cewek-cewek lo itu?”

“Wakakakakakakakakakakkkk!!!”

Klik.

Telepon ditutup.

Cesa menutup teleponnya, dan mematikannya.

Malam ini, Cessa terlelap dalam linangan air mata. Lebaynya…

Paginya…

Cessa terbangun ketika jam wekernya menunjukkan pukul enam. Sialan, semalam dia lupa mematikan alarm, padahal hari ini dia tidak bekerja. Hufff….

Turun dari tempat tidur, menyalakan handset yang semalam dia matikan.

Dan pesan bertubi-tubi memasuki handsetnya. Dari Bree…

Cessa membacanya. Seketika tawanya lepas dengan berurai air mata.

Begini isi pesannya.

Cessa. Kalo lo inget, gue adalah cowok yang melongo pertama kali ketika melihat sosok lo di kantor ini. Gue, junior lo yang susah payah menahan ego untuk gak flirting sama lo. Cewek judes dengan muka mesum yang selalu pake rok kependekan.

Lantas ketika gue dekat sama lo, dan semakin dekat. Banyak hal yang makin bikin gue sebel. Tapi lebih banyak lagi hal yang bikin gue suka…dan em…tertarik sama lo.

Jadi kalo boleh. Gue gak mau cuma ngedate aja sama lo….Ijikankan gue untuk jadi laki-laki yang bisa menemani elo. Gue gak mau jadi pelindung lo, karena lo kayaknya lebih jago berantem dari gue.

Gue gak mau jadi imam atau pemimpin lo, karena gue juga gak tau apa lu suka dipimpin atau ditunjuk.

Gue cuma mau jadi pasangan lo yang menemani lo makan, kencan, atau marah-marah gak jelas, atau ya…kalo lo kepikiran kawin. Gue temenin deh ke KUA. Iya…gue jadi suami lo…Kalo boleh.

Sekarang…buka pintu dong. Gue udah dari jam 4 subuh nungguin di depan pager rumah lo. Kalah deh antri sembako…

Cessa bergegas berlari keluar. Dan segera menghambur ke Tucson putih yang parkir dengan manisnya.

Bree terlelap. Cessa mengetuk jendela.

“Hai…”

“Jadi ini tampang lo sebelum mandi?”

Cessa tergelak, dan memainkan rambutnya yang berantakan.

“Jadi…kita…?”

“Jadi kita pacaran, gituh maksud lo?”

Cessa kembali tergelak.

“Emang kenapa kalo gue sama lo pacaran?”

“Gak tau…”

“Tuh dia, makanya karena gak tau, ya cari tau aja dulu.Perkara yang lain belakangan. Ribet amat.”

Cessa mengangguk tersenyum. Iya juga ya, ngapain repot. Kalo gue sama elo pacaran..yah at least jadi gak penasaran, kan? 😉

Err….Kayaknya hari ini gak cuma Cessa yang bolos ke kantor :p

 

 

RE-POST

Tiba saat mengerti
Jerit suara hati
Yang letih meski mencoba
Melabuhkan rasa yang ada

Mohon tinggal sejenak
Lupakanlah waktu
Temani air mataku, Teteskan lara
Merajut asa, Menjalin mimpi
Endapkan sepi – sepi

 

Kecupan yang kau hinggapi di bibirku sesungguhnya masih lembut terasa. Basah, menyentuh bibirku begitu saja. Hanya menyentuh, tanpa melumat, atau beserta gigitan. Dan aku menyukainya, sangat.

Cerita yang kau kisahkan malam ini sesungguhnya sama saja. Tentang dia, lelaki yang kau cintai, dan bersamamu pada suatu masa. Cerita yang menggoda, dahsyat, menggemaskan, namun pahit di ujungnya.

Bagaimana tidak? Kau kenal lelaki ini di suatu pesta. Mabuk. Seks semalam, lantas berlanjut begitu saja. Tanpa ikatan, katamu. Tanpa hati dan cinta, itu deskripsiku.

Tawamu renyah. Lepas dan keras. Seperti tiada beban. Pikiranmu lucu, sok lugu, padahal kau sering kali tau kau bermain dengan waktu yang tak ramah, yang kelak mampu meremukkanmu.

“Gue bingung sama hidup gue sendiri…”

Katamu suatu ketika.

“Kenapa?

Tanyaku, sembari membanting tubuhku ikut merebah di sebelahmu, di ranjang apartemenku, yang juga sudah seperti apartemenmu.

“Gue selalu suka sama laki orang. Selalu jatuh cinta sama yang udah punya bini. Nyebelin.”

Aku diam, namun terbahak dalam hati.

Kau selalu menyerahkan dirimu pada lelaki yang katamu dewasa. Yang katamu bisa mengerti dan memanjakanmu.

Yang bisa membiayai, lebih tepatnya.

Mana ada lelaki single yang mau mendekatimu? Kau terlalu mengerikan. Terlalu berbahaya.

Bukan…bukan karena sintal tubuhmu, lekuk dada dan pinggulmu yang menggoda. Bukan pula wajah sensualmu yang kadang bisa membuatku ejakulasi.

Tapi karena kau terlalu “tinggi” untuk diraih.

Setidaknya, itu yang aku rasakan…

“Biem…”

“Ya?”

“Kalo sampe umur 40 gue belum nikah juga. Lo mau gak jadi laki gue?”

Aku mengangguk pasti.

Belum selesai aku bicara. Kau sudah tergelak, mengacak-ngacak rambutku, mencium pipiku, lantas beranjak berdiri.

Belahan pakaiannya yang rendah membuatku bisa melihat jelas gundukan yang berada di baliknya.

Sejenak kau rapikan bajumu yang berantakan. Rokmu yang tersingkap, rambutmu yang ikal liar, dan kemudian menatapku di kasur dengan wajah dungu.

“Kenapa siy gue mesti kenal lo sekarang? Kenapa???”

Aku diam.

“Lo telat 18 tahun! Nyebelin!”

Dan wina, perempuan 38 tahun yang bau parfumnya manis seperti vanilla, yang setiap kali gerakan tubuhnya mampu menggetarkan hatiku. Keluar dari pintu apartemenku. Sebelum sedetiknya berkata.

“Gue mau ke Dubai minggu depan sama bokaplo. Kasih tau kalo mau nitip apa-apa, ya?”

Aku mengangguk lesu.

Dia, Wina…Perempuan yang ingin ku miliki, adalah perempuan simpanan ayahku.

Aku, Bima, Mahasiswa 20 tahun, yang mencintai perempuan yang menyakiti dan membuat ibuku menderita.

Dunia, ada yang bisa katakan dimana bahagianya?

Ps:

Suatu saat Wina, kau akan memilihku.

Kau mencintaiku, dan hanya kepada cinta itu, kau akan kembali.

Saat dusta mengalir
Jujurkanlah hati
Genangkan bathin jiwamu
Genangkan cinta
Seperti dulu Saat bersama
Tak ada keraguan…

Cinta’kan membawamu…
Kembali disini, Menuai rindu
Membasuh perih
Bawa serta dirimu…
Dirimu yang dulu
Mencintaiku apa adanya…

You dont know what you want, seriously.

Kata lelaki yang saat ini masih membakar rokoknya. Menghisapnya dalam-dalam, dan membuang abu rokoknya sembarang.

Aku cuma mau kamu memilih. Aku, atau dia…Segampang itu saja.

Kataku, sembari bersungut. Menyanggul rambutku yang terurai sekenanya. Membiarkan segala baju tidurku yang tipis dan menerawang hingga ke dada. Cuek. Aku sudah tak tahan dibuat lelaki ini.

Dia datang padaku untuk segala yang katanya dia tak pernah dapatkan dari pasangannya. Dia puaskan segala nafsu dan birahinya, denganku. Kelak dia katakan, tak ada partner terbaik di tempat tidur selain aku. Hanya aku. Cuma aku.

Lelaki ini tampan untuk pria umur setengah baya. Lebih empat puluh, belum lagi menginjak lima puluh.

Dia direktur perusahaan besar, juga nilai plus yang tentunya aku suka. Hey, hari gini naksir juga bukan cuma perkara tampang dan hati. Seberapa dalam isi kocekmu? Aku perlu tahu itu.

“Aku milikmu. Apa itu belum cukup?”

Katamu. Kali ini kau memelukku dari belakang, berbisik di tengkukku. Aroma tembakau yang baru saja kau bakar bercampur dengan Aigner yang entah kapan semprotkan. Aku suka menghirupnya dalam-dalam.

“Aku ingin memilikimu tanpa berbagi.”

Begitu kataku. Sebelum akhirnya kau bawa aku kembali ke tempat tidur, kau cumbui aku, kau sentuh aku di tempat-tempat yang aku suka, dengan cara lembut yang kau tau pasti aku nikmati.”

“Kita sudah nikmat begini. Kita bisa nikmati ini selamanya. Dan aku akan tetap memenuhi segala keinginanmu…”

Uh…

Bahkan di saat kau sedang di atasku, memasuki tubuhku pelan dan kencang secara bergantian, kau tetap mau menang sendiri.

Sialannya, aku tak sanggup menolak ini. segala kesal dan nikmat menjadi satu, membuatku mengumpat dalam satu lenguhan kepuasan panjang.

Dan kita melalui malam itu seperti biasa.

Bercakap-cakap dengan segelas wine, berciuman, bercumbu, dan bergumul di tempat tidur hingga subuh tersuruk pagi.

 

Image

 

 

 

“Kau tak akan mencintaiku jika kau memiliki ku utuh. Jika aku harus memilihmu dan menceraikan istriku, aku hanya akan menjadi gembel tanpa sedikitpun harta yang bisa kau pinta. istriku, adalah pemilik harta yang selama ini kau anggap aku miliki. Tanpanya, aku bukan siapa-siapa.”

Itu katamu semalam. Sebelum akhirnya aku kembali hanyut dalam lumatan bibirmu, serta sensual sentuhanmu yang kau lakukan sembari mengguncangku di tempat tidur.

 

 

Sialan, aku salah pilih orang yang memeliharaku…